Jumat, 01 November 2013

Berguru pada "PELANGI"



Berguru Pada Pelangi

          Di dunia ini, apakah salah jika saya dan diri Anda ternyata tidak memilki kepribadian yang sama? Apakah salah jika seorang anak tak memiliki kemampuan yang sama seperti orang tuanya? Apakah salah jika seseorang dengan orang yang lainnya memiliki kebiasaan berbeda meski mereka berada di tempat yang sama dan dinaungi oleh langit yang sama pula? Rasanya tidak. Justru tanpa adanya pertanyaan-pertanyaan itu pun, kita pasti sudah mengetahui bahwa kita semua tidak bisa menjadi orang yang benar-benar sama dalam segala aspek, sehingga kita harus berusaha memahami perbedaan itu sebagai harmonisasi dalam kehidupan, bukannya justru menjadi pemicu menuju perselisihan. Seharusnya kita mengerti bahwa saya dengan diri Anda, atau pun Anda dengan mereka sampai kapan pun meski berusaha dengan cara apa pun tetap saja tak akan bisa menjadi orang yang benar-benar sama, oleh karena itu tak ada salahnya untuk mencoba hidup harmonis di tengah perbedaan.
          Kata “harmonis” memiliki dua jenis pengertian, yaitu pengertian harmonis secara etimologis dan secara terminologis. Secara etimologis harmonis berarti selaras atau serasi. Sedangkan pengertian harmonis secara terminologis yaitu suatu kondisi yang saling selaras satu sama lain. Secara konseptual, semua rakyat Indonesia seharusnya mampu bersikap harmonis meski kita merupakan bangsa yang majemuk atau bangsa multikultural, karena harmonisasi kehidupan ada kaitannya dengan penjabaran sila ketiga dari pancasila yang merupakan ideologi nasional sekaligus kepribadian bangsa, yaitu sila “persatuan Indonesia”. Namun, jika kita perhatikan dengan saksama, atau menatap dengan sebelah mata sekali pun, kita bisa melihat dengan jelas bahwa kehidupan yang harmonis di tengah kemajemukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, belumlah terrealisasikan dengan sempurna. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai kriminalitas di dalam negeri yang didasari oleh rendahnya sifat toleransi dan keselarasan antar suku, antar agama, antar kebudayaan mau pun antar daerah.
            Salah satu kasus yang terjadi karena rendahnya kadar harmonisasi masyarakat Indonesia diantaranya adalah kasus tawuran yang terjadi di Jalan I Gusti Ngurah Rai, tepatnya di sekitar kawasan Kebon Singkong, Klender, Duren Sawit, Senin (12/8/2013).
Dalam tawuran ini, warga dari kubu Kelurahan Cipinang Pulogadung menyerang warga Kebon Singkong. Aksi lempar batu mewarnai bentrok antar warga tersebut. Beberapa warga juga terlihat membawa senjata tajam seperti samurai. Tawuran ini disinyalir berawal karena adanya perbedaan persepsi di antara kedua belah pihak. Konflik yang ditimbulkan karena pertikaian antar masyarakat Indonesia ini, cukup untuk membuat kita semua khawatir mengenai masa depan Negara Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, ras dan beragam kebudayaan. Kalau bentrokan yang terkadang mengatasnamakan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) tetap terjadi atau justru frekuensi kejadiannya semakin sering, maka jurang keharmonisan dan keutuhan bangsa secara tidak langsung akan dipertaruhkan. Apalagi kalau kita melihat catatan sejarah, ternyata bentrokan antar adat, antar suku atau pun antar agama telah terjadi sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Misalnya saja konflik Maluku dan Maluku Utara yang telah berlangsung dalam kurun waktu tahun 1999 sampai 2002. Akibat kerusuhan ini, sekitar 8 ribu sampai 9 ribu korban meninggal dunia dan 700.000 warga lainnya mengungsi. Konflik di Maluku Utara yang berlangsung selama 4 tahun dan  mencakup luasan sampai tingkat propinsi itu terjadi karena adanya pertikaian antara kelompok-kelompok etnis yang berkaitan dengan kepentingan sumber daya di wilayah pertambangan Malifut dan pertarungan elit kekuasaan di tingkat lokal. Selain itu, konflik besar yang beberapa waktu lalu sontak diberitakan oleh insan media yaitu Konflik Lampung Selatan, konflik ini menewaskan 14 orang, belasan lainnya luka parah dan 1.700 warga mengungsi. Cakupan luas konflik meliputi dua kecamatan, yakni Kali Anda dan Way Panji dengan lama konflik mencapai tiga hari, dari tanggal 27 hingga 29 Oktober 2012. Akibat konflik ini, total kerugian mencapai Rp24,88 miliar. Konflik Lampung Selatan ini, berawal dari ketimpangan dalam penguasaan akses ekonomi antara kelompok masyarakat setempat yang beretnis Lampung dengan kelompok masyarakat pendatang yang beretnis Bali.
            Untuk setiap pertikaian yang telah terjadi ini, atas nama orang-orang yang telah menjadi korban jiwa dalam berbagai konflik, dan bagi orang-orang yang harus menanggung beban penderitaan secara moril atau pun materil karena konflik berbau SARA ini, siapakah pihak yang harus kita salahkan? Apakah ada orang yang mau bertanggung jawab atas semua kerusakan, kerugian dan kehilangan teramat dalam yang mereka rasakan?
            Konflik antar suku, antar agama, antar kebudayaan mau pun antar daerah adalah konflik yang cenderung akan tetap ada di Indonesia yang memang multikultural. Konflik tersebut terjadi seperti suatu siklus yang berkepanjangan dan terus berulang.  Siklus yang diawali dengan adanya persilihan, beranjak menuju pertikaian dan bentrokan antar kubu yang berselisih, kemudian ada korban jiwa sekaligus kerugian materil yang besar karena bentrokan tersebut, terciptalah rasa penyesalan bagi berbagai pihak dan setelah beberapa waktu berlalu, perselisihan itu akan muncul kembali di tempat yang sama atau pun tidak. Hal yang paling miris dari semuanya adalah fakta bahwa pertikaian dan bentrokan ini terjadi masih di antara warga Negara Indonesia sendiri. Ini begitu menakutkan, ketika membayangkan bahwa negeriku dirusak oleh bangsaku, dan bangsa Indonesia disakiti oleh bangsa Indonesia pula. Yang paling disesalkan ialah karena semua pertikaian itu disebabkan adanya pluralistis dalam bangsa Indonesia. Padahal, kalau kita bisa berpikir realistis dan bersikap bijaksana dalam menghadapi semua perbedaan yanga ada, maka kemungkinan terjadinya kehancuran bangsa Indonesia yang selama ini kita takutkan tidak akan terjadi. Karena perbedaan hakikatnya tak harus menjadi pemicu pertiaian sekaligus jurang kehancuran di antara kita, bangsa Indonesia.
          Perbedaan suku, agama, ras atau pun perbedaan adat di satu tempat dengan tempat yang lainnya pastilah sudah sering kita temukan. Namun, semua perbedaan itu tak pantas dijadikan suatu alasan bagi kita untuk saling membenci. Negara indonesia yang harmonis, semua lapisan masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia pastilah menginginkan hal tersebut tak sekedar menjadi angan-angan saja. Negara Indonesia memang Negara yang besar serta Negara yang senantiasa dikagumi Negara lain karena kemajemukan suku bangsanya. Ada suku Aceh, suku Batak, suku Baduy, suku Sunda, suku Dayak dan masih banyak lagi. Namun, kemajemukan ini ternyata tak bisa selamanya dianggap sebagai hal yang mengagumkan. Seiring berjalannya waktu, percikan-percikan api perselisihan antar kepentingan yang berbeda-beda dari beragam suku bangsa di Indonesia mulai membuat kita khawatir dan kemudian mulai mempertanyakan peranan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang menjadi semboyan kita selama berpuluh-puluh tahun untuk mempertahankan kedaulatan dan keharmonisan bangsa Indonesia.
          Dewasa ini, telah banyak orang-orang yang menyuarakan tentang pentingnya hidup harmonis di tengah perbedaan, tetapi di sisi lain, pertikaian atau pun bentrokan antar warga di Indonesia masih saja terjadi. Bahkan pelakunya tidak hanya golongan pemuda dan orang tua saja, melainkan semakin meluas sampai ke para remaja usia SMA dan SMP. Melihat situasi yang semakin memburuk ini, maka wajar saja jika kita subagai subjek dalam kehidupan bernegara mulai berusaha untuk menanamkan tentang betapa pentingya arti sebuah keharmonisan untuk negara kita.
          Banyak orang yang beranggapan bahwa ketika ada perbedaan sikap individu dengan kebiasaan umum masyarakat, maka hal tersebut adalah suatu kesalahan atau pun penyimpangan. Kita boleh saja memercayai teori tersebut, tapi hal itu pun hanya pada konteks tertentu saja, karena tak selamanya perbedaan merupakan keganjilan. Ada kalanya kita harus memahami semua perbedaan yang kita lihat dengan persepsi yang bijaksana, bukan dengan pandangan sebelah mata saja. Kita terlahir sebagai salah satu bangsa yang multikultural, tak bisakah kita tetap menjaga keberagaman ini sebagai suatu anugerah yang indah? Mungkin hal ini tidaklah mudah, namun hal ini pun tidaklah sulit jika kita benar-benar berniat untuk merealisasikannya. Mari kita mengambil suatu perumpamaan yang mudah, ada sekelompok orang yang sangat menyukai pohon kelapa dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Mereka menganggap bahwa pohon kelapa merupakan pohon yang paling sempurna karena buah, air kelapa, daun kelapa, batang atau bahkan akarnya pun bisa mereka manfaatkan dengan baik. Mereka boleh saja menjadi para pecinta pohon kelapa, tapi mereka tak boleh memaksakan kehendak mereka untuk membuat semua tanaman yang ada di Negara Indonesia hanyalah jenis pohon kelapa saja, karena tak selamanya yang mereka butuhkan hanya pohon kelapa kan? Atau mari kita mengambil perumpamaan lain, ada seseorang yang mendapat sebuah pertanyaan tentang bagian tubuh yang paling penting bagi dirinya, misalnya saja dia menjawab jantung, karena selama ada detak jantung berarti dia masih hidup. Setelah itu, orang tersebut ditanya lagi tentang bagian manakah dari tubuhnya yang paling dia tidak suka, dan orang tersebut menjawab usus karena dia beranggapan bahwa usus itu menjjikan. Dia pun mendapatkan pertanyaan lagi, apakah kamu mau menghilangkan usus yang menurutmu menjijikan itu? Orang tersebut hanya terkekeh dan berkata, “ah tak perlu sampai seperti itu karena usus pun masih merupakan bagian dari diriku yang berharga”. Dari perumpamaan-perumpamaan ini, kita bisa merenung bahwa perbedaan itu pastilah ada. Entah itu perbedaan minat, persepsi, hobi, kebiasaan, mata pencaharian,  atau pun perbedaan agama, ras, adat dan suku antara Anda dengan yang lainnya. Namun, kita harus meyakini bahwa setiap perbedaan yang ada bukanlah suatu kesalahan yang harus dimusnahkan dan kita musuhi. Sama seperti sikap sekelompok orang yang sangat menyukai pohon kelapa di atas, kita anggap saja pohon kelapa tersebut sebagai salah satu etnis di suatu daerah, meski mereka menganggap etnis tersebut sebagai etnis yang paling sempurna dibandingkan etnis yang lainnya, mereka harus menyadari bahwa mereka tak mempunyai hak untuk membuat etnis orang lain sama seperti etnisnya. Atau pun perumpamaan ketika seseorang ditanya tentang menghilangkan usus yang menurutnya menjijikan, ia menjawab tak mau. Karena dia menyadari bahwa meski berbeda dari bagian yang menurutnya paling penting, tetap saja bagian yang berbeda tersebut memiliki peranan tersendiri, manfaat tersendiri dan tetaplah bagian dari dirinya. Sama halnya dengan suku bangsa di Indonesia, mereka sangat beragam dan memiliki peranan tersendiri, kebudayaan tersendiri dan juga kepercayaannya sendiri, namun mereka sama, sama-sama bangsa Indonesia.
          Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi Negara yang sangat indah jika saja masyarakat di dalamnya mau bersikap harmonis satu sama lain, meski pun masyarakat tersebut berlatar belakang dari budaya yang beragam. Negara ini akan menjadi Negara yang damai, seandainya masyarakat di dalamnya bisa hidup harmonis walau pun berada di tengah perbedaan, tak membedakan mana si kaya dan si miskin, juga tak mempersalahkan perbedaan antara suku batak atau pun dayak, orang islami atau pun kristiani, orang papua atau pun orang jawa, serta perbedaan antara adat bali atau pun betawi. Ketika kita semua bisa hidup harmonis di tengah perbedaan, maka hal tersebut pasti akan menjadi hal yang indah dan membahagiakan semua pihak.
          Dengan hidup harmonis kita bisa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita bisa merasakan indahnya perdamaian, kita juga bisa menikmati rasa kebahagian yang menentramkan hati ketika kita saling berbagi senyuman tanpa kemunafikan, ketika kita saling mendukung satu sama lain tanpa mengharapkan imbalan, ketika kita bisa hidup berdampingan meskipun kita satu sama lain adalah orang yang berbeda.
          Sebenarnya ada banyak cara yang bisa kita lakukan agar bangsa Indonesia bisa hidup harmonis di tengah perbedaan. Hal pertama yang cukup mudah untuk kita lakukan ialah menanamkan rasa toleransi yang tinggi terhadap orang lain, meski orang tersebut memiliki agama yang berbeda dengan kita, suku yang berbeda dengan kita, dan kebudayaan yang berbeda pula dengan kita. Agar toleransi ini bisa terwujud, kita harus menghindari sifat primordialisme, yaitu sikap yang menganggap bahwa golongannya adalah golongan yang paling baik dibandingkan dengan golongan yang lainnya. Cara yang kedua yaitu kita harus senantiasa bersikap bijaksana dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi tanpa terpancing emosi, agar kita mampu hidup berdampingan meski di tengah perbedaan, agar kita bisa bersanding sebagai bangsa Indonesia yang baik, bukannya justru saling bersaing agar menjadi kelompok yang terbaik. Cara yang ketiga yaitu menanamkan serta melaksanakan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara supaya kita mampu mempertahankan sekaligus mewujudkan kembali persatuan bangsa Indonesia yang beberapa tahun ini terus dilanda konflik dan pertikaian. Cara yang keempat ialah kita harus menghindari sikap deskriminatif, yaitu suatu sikap yang membeda-bedakan perlakuan terhadap sesama warga negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku bangsa, ekonomi, agama, dan lain-lain. Hal kelima yang sebenarnya sangat penting ialah adanya usaha dari berbagai pihak dalam pembentukan watak dan kepribadian bangsa sejak usia dini, sehingga para generasi muda mampu menjadi orang-orang yang bisa kita andalkan dalam menjaga persatuan Indonesia di masa mendatang, poin kelima ini sebenarnya telah dilaksanakan dengan adanya kurikulum pendidikan yang mementingkan pembentukan karakter dalam setiap diri para pelajar di Indonesia.
          Negara Indonesia memang termasuk Negara yang multikultural, artinya terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai struktur budaya (culture) yang berbeda-beda. Namun seiring perjalanan waktu, semakin sering terjadi berbagai kasus dan konflik kekerasan yang mengatasnamakan etnis, agama, ideologi, dan sebagainya. Kalau konflik-konflik tersebut didiamkan berkepanjangan, maka janganlah heran kalau beberapa tahun ke depan, Indonesia akan terpecah menjadi berbagai kelompok masyarakat yang senantiasa bertikai satu sama lain. Kita semua pasti tak menginginkan hal tersebut terjadi, oleh karena itu kita harus bisa memahami segala perbedaan yang ada di antara setiap lapisan bangsa indonesia secara bijaksana. Keberagaman suku bangsa dan budaya masyarakat Indonesia tidak boleh menjadi alasan untuk suatu pertikaian yang akan berakhir dengan saling menuding, menyalahkan, menjatuhkan, menyerang, menyakiti, melukai apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain. Jika kita mau saling menghargai dan sama-sama berusaha menerima perbedaan ini sebagai suatu anugerah yang harus kita lindungi dan kita banggakan, suatu saat nanti kita pasti bisa menjadi bangsa Indonesia yang tetap harmonis dan damai meski pun terdiri dari beragam suku bangsa. Ingatlah, pelangi pun terlihat indah karena ia mempunyai susunan warna yang beragam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar